Monday, February 20, 2006

Pengantar Ke Filsafat Islam

Oleh Oliver Leaman
Diterjemahkan oleh Luthfi Musthofa


Tak ada definisi yang diterima secara umum tentang apa itu filsafat Islam. Istilah yang akan digunakan dalam artikel ini digunakan penulis untuk merujuk pada sejenis filsafat yang sejak lama tumbuh dan berkembang dalam kebudayaan Islam.
Ada sejumlah aliran utama dalam filsafat Islam. Filsafat Paripatetik yang secara garis besar mengikuti tradisi filsafat Yunani, sementara itu sufisme yang menggunakan prinsip-prinsip pengetahuan mistik sebagai gagasan utamanya. Sebagian orang akan membantah bahwa sesungguhnya filsafat Islam tak pernah kehilangan perhatiannya atas Al-Qur’an atau teks-teks muslim penting lainnya. Jika kita lihat sepanjang sejarah filsafat Islam telah berupaya mencari pemahaman tentang esensi realitas, baik itu dari Kitab Suci ataupun alam ciptaan ini. Kemunduran filsafat paripatetik di dunia Islam bukanlah kemunduran filsafat Islam itu sendiri. Filsafat Islam sesungguhnya terus berlanjut, tumbuh subur, dan berkembang dalam bentuk-bentuk yang lain. Terkadang ada seruan bahwa berfilsafat bukanlah aktivitas yang sesuai bagi seorang muslim sebelum mereka mendapatkan bimbingan pengetahuan dan tingkah laku yang sempurna sesuai dengan al-Qur’an. Seruan ini dengan sendirinya menunjukkan alasan bahwa filsafat Islam pada hakikatnya tidak bertentangan dengan dasar keyakinan agama (Islam).

Baca lebih lengkap di sini

Sunday, February 19, 2006

Pengantar Sejarah Filsafat Islam

oleh M.M Sharif, M.A, Direktur Institute of Islamic Culture, Lahore (Pakistan)

diterjemahkan oleh Luthfi Musthofa

Sejarah Filsafat selalu ditulis dalam cahaya filsafat sejarah yang didasarkan atas prasangka para penulisnya. Hasilnya, kekeliruan ini secara pelan-pelan melemahkan filsafat sejarah sang penulis dan merusak sejarah filsafatnya sendiri. Pada karya-karya belakangan ini upaya yang dilakukan semestinya diarahkan untuk menjernihkan kekeliruan-kekeliruan tersebut.

Daripada membaca sejarah filsafat dalam sebuah cermin yang didasarkan atas filsafat-filsafat prasangka --yang akan memberikan citra yang distortif-- sesungguhnya kajian sejarah yang lengkap sendirilah yang bisa menangkap dinamika sejarah secara jernih berikut penemuan atas hukum-hukum. Kami berharap kajian dari filsafat Muslim dan penelitian empiris atas subyek-subyeknya akan setidaknya menyoroti sejumlah miskonsepsi terkini seputar para filsuf dan sejarawan tentang sifat alamiah sejarah dan hukum-hukum yang mengaturnya.

Baca Selengkapnya di sini

Wednesday, January 18, 2006

Kajian Filsafat Islam


Ibrahim Bayyumi Madkour
________________________________

Diterjemahkan dar
i Persia- Inggris oleh Shahyar Sa’adat
Diterjemahkan Inggris- Indonesia oleh Luthfi Musthofa

Untuk sekian lama filsafat Islam pernah diliputi kabut kesangsian dan ketidakpastian. Sebagian menolak keberadaannya sementara yang lain menegaskannya. Ketidakpastian ini berlangsung terus sepanjang abad kesembilan belas masehi. Mereka yang menolak eksistensi filsafat Islam berpura-pura tidak tahu dan mempertahankan anggapan bahwa pengajaran Islam bertentangan dengan dikusi bebas serta penyelidikan ilmiah; dan oleh karenanya, Islam tak pernah bangkit untuk menolong filsafat dan Ilmu Pengetahuan sepanjang abad-abad kehadirannya tersebut. Satu-satunya buah dari Islam yang telah membuat bertahan orang-orang yang mengikutinya adalah adanya taklid buta (intellectual despotism) dan dogmatisme. Agama Kristen, sebagai perbandinganya, yang telah menjadi tempat lahir bagi kebebasan berpikir dan diskusi, yang mempertahankan seni dan sastra komersial, serta mendorong sains, kemudian menjadi lahan yang subur bagi berkecambahnya filsafat baru dan membantunya untuk tumbuh serta menghasilkan buahnya.

Prasangka Rasial..Baca Selengkapnya di sini

Tuesday, January 17, 2006

Logika Dalam Filsafat Islam

Oleh Deborah L. Black (Copyright © 1998, Routledge)
Diterjemahkan oleh: Luthfi Musthofa

Logika Islam terutama terilhami oleh bunga rampai logika Aristoteles, The Organon (yang menurut sistem klasifikasi (taksonomi) Yunani akhir juga termasuk Retorika dan Puitik). Para penulis muslim juga akrab dengan sejumlah unsur logika Stoic dan teori linguistik, serta sumber-sumber logika yang bukan saja hasil karya Aristoteles sendiri tetapi juga para komentator Aritotelian Yunani belakangan, seperti The Isagog of Porphyry dan tulisan logika karya Galen. Bagaimanapun, sebagian besar karya-karya logika filsuf Islam secara jujur memang berasal dari peninggalan tradisi logika Aristotelian, dan sebagian besar dari tulisan mereka tersebut berisikan komentar-komentar terhadap logika Aristoteles.

Bagi para filsuf Islam, Logika tidak saja merupakan kajian tentang pola-pola formal untuk menarik kesimpulan dan keabsahanya tapi juga merupakan unsur-unsur dalam filsafat bahasa, bahkan epistemologi dan metafisika. Karena wilayah perdebatannya bersinggungan dengan para ahli tata bahasa Arab, para filsuf Islam kemudian begitu tertarik untuk membangun jembatan antara logika dan bahasa, kemudian mereka bertekun dalam banyak diskusi untuk pertanyaan tentang pokok permasalah dan tujuan logika berkaitan dengan metode berpikir dan cara mengungkapkannya. Dalam wilayah analisa logika formal, mereka mengelaborasikan teori-teori definisi, preposisi, dan silogisme sebagaima diformulasikan dalam kategorinya Aristoteles, De interpretatione and Prior Analytics…

Tertarik lebih lanjut? Baca Selengkapnya di sini

Sunday, January 15, 2006

Hubungan antara Filsafat dan Teologi di Era Postmodern

oleh Dr. Muhammad Legenhausen (al Tawhid vol 14 no 1)
Diterjemahkan oleh
Luthfi Musthofa

Ketika masih belajar di SMU Katolik di Queens, New York, saya sempat berpikir bahwa meskipun filsafat merupakan induk dari Ilmu pengetahuan, tapi ia juga adalah kaki tangan teologi. Terkadang dialog antara teologi dan filsafat bisa tampak seperti sebuah bentuk perintah yang diberikan oleh ‘sang nyonya rumah’ kepada pelayannya yang terpelajar namun patuh. Tapi itu sudah lama sekali, begitulah dulu anggapan saya. Gagasan bahwa para filsuf harus melayani teologi ini telah mengalami penolakan di Barat dari sebagian besar filsuf dan banyak teolog, setidaknya sejak era Pencerahan (Enlightenment) pemikiran bangsa Eropa. Tapi yang terjadi kemudian bukannya membawa emansipasi bagi filsafat, tapi hasilnya malah menjadikan filsafat sebagai pelayan bagi anak-anaknya sendiri, yaitu ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan manusia. Jadi di manakah kedudukan hubungan antara filsafat dan teologi sekarang? Banyak yang melihat bahwa bisa selamanya terputus, dan banyak teolog kristen berpikir bahwa ini merupakan keuntungan bagi teologi. Sebagai mana mereka memandang, filsafat tidak akan pernah menjadi pelayan yang sangat diandalkan, alih-alih ia akan selalu menimbulkan banyak persoalan dibandingkan membantu memecahkannya…


Tertarik? Simak selengkapnya di sini